Love Is
Sick
A fanfiction by Zi_You
Title :
Love Is Sick | Main Cast : Kim Myung
Soo, Song NaYoung(OC)| Genre :
Romance, (A little bit) Fluff, Hurt| Duration
: Drabble|
NOTE :
In this part, all of side is
L(MyungSoo)’s side.
Hope you like this.
Happy
reading!
.
“Do you know, the meaning fate is?”
.
.
Ruangan
itu, nampak lenggang dari jarak pandang beberapa meter dari pohon tua, tempatku
berdiri. Namun, angin musim gugur yang tidak hanya mengantarkan desiran
dedaunan, tetapi juga mengantarkan dentingan halus, yang dapat ku duga dari
ruangan itu. Alunan dentingan halus, yang menggelitik gendang telingaku.
Dentingan itu, kini bukan saja terdengar samar-samar, namun semakin terdengar
tajam oleh indera pendengaranku, seiring langkah kakiku yang mendekati ruangan
itu.
Iris
coklat ku menyisir ruangan ini. Pernyataanku salah. Ruangan ini tak lenggang
seperti saat indera penglihatanku menangkap bayangan ruangan ini. Mereka
tersenyum simpul padaku, pun pastur di sana. Ia tersenyum simpul.
Lagi,
iris coklatku menyisir ruangan yang telah di desain ini. Hanya warna putih di
sepanjang iris coklat ku menyisir ruangan ini. Juga harum mawar yang mengelitik
rongga hidungku, sejak langkah kakiku terhenti diantara apitan pintu bercat
putih, pula.
Langkah
kaki ku semakin mendekati pastur yang semenjak tadi membawa kitab di tangan
kanannya. Menyisakan jarak pandang yang kurang dari dua langkah kaki, dari
tempatku berdiri sekarang.
Ku
balikkan tubuhku. Kini bukan lagi pastur yang berdiri tegap, yang menjadi pusat
perhatianku. Melainkan dia, yang menjadi pusat perhatianku. Seorang gadis yang
berdiri di antara apitan pintu putih. Gaun putih panjang yang ia pakai, terjuntai panjang ke
bawah, bahkan kelihatan menutupi jemari kakinya. Membuatnya kelihatan bukan
saja cantik, tapi juga anggun. Sehelai kain tipis berongga kecil, menutupi
wajah cantiknya, hingga senyum simpul manisnya kelihatan samar.
‘Sungguh,apakah
tak ada kata yang mampu kuucapkan, melebihi kata sempurna?’ Empat gadis kecil dengan keranjang
kecil yang berisikan mawar, menghantarkannya mendekatiku. Namun, semakin jarak
pandangku mendekat dengannya, ia semakin menjauhi jarak pandangku. Bahkan
ketika empat gadis kecil itu semakin mendekati jarak pandangku, ia terlihat
melangkahkan kakinya bukan ke depan, tetapi melangkah lebar ke belakang. Ia
seolah lupa dengan gaunnya yang menghalangi langkahnya.
Semakin ku langkahkan kakiku,
semakin ia melangkahkan kakinya ke belakang.
Semakin ku langkahkan kakiku,
semakin pudar pula senyum simpul manisnya.
Begitu, hingga ku julurkan tanganku
yang ku rasa mampu merengkuh tangan pucatnya, namun ia semakin melangkahkan
kakinya ke belakang. Bukan. Tepatnya seperti terbawa hembusan angin musim
gugur. Terlihat seperti ia dedaunan maple yang rapuh.
Semakin arah pandangku mendekatinya,
ia semakin samar. Entah. Pandanganku yang mulai berkurang, atau kehadirannya
beberapa menit lalu hanya dalam alam bawah sadarku, bukan alam nyata?
“NaYoung-a” Semakin ku pertajam panggilanku,
semakin ia terlihat samar, dan akhirnya hilang dari penglihatanku. Juga ketika
iris mataku dengan cepat menyisir ruangan ini, mereka dan pastur yang tersenyum
simpul kepadaku seolah mengikutinya yang terbawa angin musim gugur. Seolah
meninggalkanku di ruangan yang lenggang ini.
Semakin kakiku berusaha mengejarnya
yang tak menyisakan jejaknya untukku, semakin kakiku dibuat lemah olehnya,
hingga tak mampu menopang berat badanku. Dadaku terasa sesak. Namun, aku berusaha menarik napas
panjang dengan hati-hati, tapi dadaku semakin terhimpit. Sebutir linangan air mata
menetes dari pelupuk mataku. Oh, apakah aku mengabaikan sesak
ini beberapa menit tadi, hingga hanya ada ambisiku?
“Hyung, kapan terakhir kali kau menangis?” Suara itu, tentu bukan
suara lembut yang ku harapkan dari gadis cantik tadi. Suara itu, terdengar
tajam dan dalam. Seperti tepat masuk dalam relung hatiku.
“Berapa kali pula harus ku katakan.
Jangan kau datang kemari, bahkan dengan tuxedo-mu itu. Dia tak akan datang, hyung. Kau hanya membuang waktumu.
Percayalah.” Bahkan ketika lelaki itu mengakhiri frasanya,seperti ia mengarahkan
belati pisaunya ke ulu hatiku. Tidakkah itu terdengar menyakitkan? Bahkan
semakin ku pererat tuxedo yang sedari tadi ku remas, sesakku tak kunjung
mereda. Dengan kepalaku yang tertunduk, menyembunyikan air mataku, juga kepalan
tangan kiriku yang sengaja ku hantam pada keramik putih itu.
Inikah
alam nyataku yang dapat terlihat nyata yang terlihat samar oleh indera
penglihatanku, beberapa menit lalu? Tidakkah ini menyakitkan?
‘Aku terlihat kacau, sekarang.
Bagaimana jika ia melihatku? Tidakkah ini memalukan?’
“Simpan
air matamu, hyung. Ia pun menangis,
jika kau menangis. Jangan kau buat ia susah di alamnya.” Suara itu terdengar
melunak. Tak seperti beberapa menit lalu, yang terdengar membara.
“Aku
tak sanggup, SungYeol-a. Ini
menyakitkan. Aku bahkan tak tahu harus dengan cara apa aku menggantikan pedih
ini dengan senyuman? Ini...”
“Aku
tahu ini sulit untukmu, hyung. Tapi,
tidakkah kau berfikir ada banyak hal yang mampu menghilangkan pedihmu, juga
melupakan....”
“Tidak.
Aku tak akan melupakannya. Tapi, aku akan menjadikannya kenangan terindah dalam
memoriku.”
.
.
.
I wanna go back
I wanna tell to my fate
“She is my girl. She is mine”
Keep our distance
Because I always hope
She is my fate
.
.
A/N:
Oke, ff ini sangat
banyak kekurangan. Dan harus ku akui. Kalau pun gak ada epilog ini, mungkin gak
akan nyambung sama covernya yang udah berbau pernikahan. Jadi, sengaja aku
bikin epilog yang menggambarkan betapa kehilangannya L(MyungSoo) atas kepergian
NaYoung. Maaf kalo bahasanya terlalu susah dimengerti.
